Saya tidak menyangka kalau saya akhirnya dikasih bagian kelas Conversation for Kids di Mutiara Bangsa Course, yang isinya kebanyakan siswa kelas 1 dan 2 SD. Saya tidak mengambil mata kuliah English for Young Learner (EYL) karena saya bukan mahasiswa jurusan pendidikan. Kenapa awalnya saya merasa cemas? Iya, takut mati gaya, takut siswanya tidak mau belajar, takut siswanya tidak suka dengan gurunya. Saya sempat membayangkan dimana sebagian anak teriak-teriak, sebagian lari-lari kejar-kejaran, sebagian berantem, sebagian menulis, sebagian mainan spidol, sebagian pengen cepet-cepet break time, sebagian menangis. Kenyataan sebenarnya, ya semua itu terjadi juga, tapi tidak dalam waktu yang bersamaan. Sampai saat ini masih undercontrol. Tadinya saya berpikir bahwa kegitan-kegiatan hiperaktif itu salah dan menjengkelkan, tapi akhirnya saya tahu bahwa setiap anak mendefinisikan kesenangan itu berbeda-beda, dan sebagai pengajar saya juga harus menyelami dunia mereka.
Dalam dua bulan ini saya mempelajari beberapa hal:
Beda karakter, beda perhatian, dan semuanya meminta perhatian khusus. Di kelas saya ada siswa yang tidak mau bicara, ada yang selalu mengikuti apa yang temannya lakukan, ada masih susah menulis, ada yang belum konsentrasi, ada yang harus didampingi sampai selesai. Kadang mereka menarik tangan kanan dan kiri saya “Mister, sini………”, “Mister, aku dulu………”, “Ih Mister, kalau nggak ke sini aku nggak mau nulis”. Berlakulah adil dan buatlah prioritas ke anak yang benar-benar buuh bantuan kita.
Lebih baik menggunakan kalimat ajakan. Seorang anak akan sangat merasa bersalah dan akhirnya menyerah untuk mengerjakan hal-hal baru. “Mister…… susah, ini ajalah yang ditulis yang ini nggak usah”. Ada banyak pilihan respon yang diberikan “Kalau nggak dikerjain, nggak dapet nilai”, “Kalau nggak dikerjain Mister bilangin Mama”, “Sini-sini, dikit lagi yuk, nanti kalau salah Mister benerin”, “Mana yang susah, Mister bantuin satu nomer, yang satu tulis sendiri ya”, “Mister temenin deh sini”, “Kalau minta tulisin Mister, dapetnya 70-80, kalau nulis sendiri dan bener, nani dikasih 100. Ayo, mendingan dapet 100 kan?”. Tentunya kalimat yang bernada mengancam tidak baik untuk diterapkan, boleh sih dalam kondisi esktrim, itupun tidak boleh sering-sering. Keluarkanlah kalimat yang membuat mereka feeling secure dan memotivasi.
Karena anak-anak kelas 1 dan 2 kadang masih susah diatur, harus mencari celah agar mereka bisa tetap berkonsentrasi. Misalnya mereka terbiasa meminta nilai sesudah selesai mengerjakan. Sesaat sebelum memberi nilai, berikan mereka kesempatan untuk menjawab pertanyaan, member pertanyaan atau membaca bacaan yang kita beri. Ini juga bisa diterapkan pada saat mau pulang. Saya mempelajari cara ini di PAUD keponakan saya, jadi siapa yang bisa berbicara dengan tepat duluan, bisa keluar kelas terlebih dahulu.
The first 20 minutes is golden time, after that “I want to play”. Maksimalkan 20 menit pertama untuk role play/ practice setiap anak. Tantangannya adalah bagaimana ke 10 anak ini bisa mengucapkan perkata dalam satu kalimat berbahasa Inggris – yang mereka masih anggap asing- dengan benar. Kadang guru bisa saja disalahkan karena anak ingin cepat-cepat istirahat, yang kadang diinterpretasikan gurunya membosankan. Hm.. it maybe true, but it’s not totally true. Anak-anak masih belajar tergantung moodnya. Ada yang sedang sakit, ada yang tidak sabar memperkenalkan mainan baru, anak belum sempat tidur siang, anak masih capek belajar dari sekolah. Pertimbangan itulah yang kadang membuat saya memberi waktu luang agak lebih lama untuk break time – sekitar 15-20 menit. Sesudah itu baru masuk kelas lagi dan mengondisikan mereka satu-satu.
Bawalah mereka ke dalam situasi belajar sambil bermain. Siapkan game, video, gambar, dll. Dan saat yang paling menyenangkan adalah saat pulang. Mereka berebut shaking hand sambil tubruk-tubrukan dan berlari. Mendadak mereka menjadi cepat menghafal lesson hari ini, 4 vocab and two question-answers at minimum.
Mengajar Bahasa Asing untuk anak kelas 1-2 SD memang butuh ketelatenan. Saya juga masih mempelajari polanya. Semoga terus lebih baik. Salah satu yang saya pegang adalah cara menjelaskan sesederhana mungkin dan menjelaskan pelan-pelan dengan penjelasan yang berurut. Nah, bagaimana pengalamanmu mengajar Englsih for Young Learners?










